Teori Pinalti (The Science of Football)


Pemain Jepang Yuichi Komano saat gagal melakukan penalti melawan Paraguay di babak 16 besar, Selasa (29/6).

Dua pemain saling berhadapan, yang satu penendang, yang satu kiper. Jarak keduanya hanya 16 langkah. Tapi keduanya tahu satu tendangan akan menentukan hasil pertandingan, menang atau kalah. Itulah pentingnya sebuah penalti.

Terdengarnya mudah, cuma tinggal menendang bola. Tapi penalti ternyata jauh lebih sulit dari yang terlihat. Sudah banyak pemain bintang yang akan selalu dikenal karena kegagalannya melakukan penalti.

“Kegagalan itu menghantui saya bertahun-tahun,” kata Roberto Baggio, penyerang Italia — salah satu pemain terbaik di Piala Dunia 1994 — sampai tendangnya melayang di atas mistar sehingga Brasil menjadi juara di Amerika Serikat. “Itulah saat terburuk dalam karier saya. Masih sering saya bermimpi soal itu. Jika saya bisa menghapus kenangan buruk, maka itulah yang pertama yang saya hapus.”

Penalti yang ditemukan Juni 1890 oleh William McCrum, anggota Asosiasi Sepak Bola Irlandia memang menjadi warna lain — sekaligus momok menakutkan — dalam sepak bola. Malah jauh lebih menegangkan dibandingkan pertandingan normal selama 90 menit. Setelah diperkenalkan tahun 1970, penalti di Piala Dunia baru terjadi di semifinal Piala Dunia 1982 ketika Jerman menang 5-4 (3-3) atas Prancis.

Lucozade Sport dan Prozone melakukan analisa matematis mengenai penalti yang diberi judul ‘Penalty Spotlight Study’. Mereka meneliti tos-tosan di Piala Dunia 1998, 2002, dan 2006 serta Piala Eropa 2000, 2004 dan 2008 — total 6 turnamen, 14 adu penalti dan 130 tendangan — untuk menemukan sebuah formula.

Ini rumusnya:

Bingung?  Oke untuk lebih mudahnya begini. Pertama, analisa ini menggarisbawahi variabel kunci yang meningkatkan kemungkinan suksesnya sebuah penalti. Kedua, formula dibagi dalam dua grup “pemain” dan “teknik”

Hasil studi menunjukkan variabel “pemain” yang menggunakan kaki kanan cenderung lebih sukses dibandingkan pemain berkaki kiri — 71% berbanding 52% — sementara variabel “teknik” menunjukkan 87% tendangan yang mengarah ke pojok kiri atas-lah yang paling banyak berhasil.

Variabel “pemain” lain yang juga harus diperhatikan adalah soal posisi. Sebanyak 75% dan 72% penalti yang berhasil dilakukan oleh striker dan bek. Pemain gelandang? Cuma 61%. Studi ini juga mengungkapkan 91% penalti selalu sukses dilakukan oleh pemain yang usianya 21 tahun.

Selain itu, disebutkan juga 87% penalti dilakukan dari sisi kiri kotak penalti lebih sering berhasil dibandingkan 72% yang dilakukan sambil berlari dari luar kotak penalti.

Simpel? Secara teori sih iya, prakteknya? Susah…

Perihal arnstev
"Bless all forms of intelligence"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: